JAKARTA - Pada periode pertama Februari 2026, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) menunjukkan kenaikan yang signifikan jika dibandingkan dengan periode kedua Januari 2026.
Kenaikan harga TBS ini dipengaruhi oleh peningkatan harga minyak sawit mentah (CPO) serta harga kernel, yang kembali menunjukkan tren positif.
Melalui penetapan harga yang dilakukan oleh Dinas Perkebunan Sumsel, harga TBS di awal Februari tercatat mengalami kenaikan sebesar Rp108 per kilogram untuk kelompok umur sawit 10-20 tahun.
Sementara harga kernel, yang merupakan bagian inti dari kelapa sawit, tercatat sebesar Rp11.883 per kilogram dengan indeks K sebesar 92,11%. Kenaikan harga CPO dan kernel tersebut berimbas pada harga TBS, memberikan dampak positif bagi para petani sawit yang ada di Sumsel.
Peningkatan Harga TBS untuk Berbagai Kelompok Umur Sawit
Salah satu aspek penting yang disoroti adalah harga TBS tertinggi yang tercatat pada kelompok umur sawit 10-20 tahun, yang mencapai Rp3.559 per kilogram pada periode I Februari.
Harga tersebut menunjukkan kenaikan sebesar Rp108 per kilogram dibandingkan dengan periode II Januari 2026, yang hanya tercatat Rp3.451 per kilogram. Kenaikan ini menjadi angin segar bagi petani, terutama mereka yang memiliki tanaman sawit dengan umur 10 hingga 20 tahun, yang dikenal sudah memasuki masa produktif puncak.
Namun, meski terdapat kenaikan harga TBS pada kelompok umur tersebut, harga TBS pada umur sawit yang lebih muda juga mengalami kenaikan meski tidak sebesar kelompok umur 10-20 tahun.
Misalnya, pada umur tanaman sawit 3 tahun, harga TBS tercatat Rp2.998 per kilogram, sedikit lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang berada di kisaran harga Rp2.950 per kilogram. Ini menunjukkan adanya konsistensi dalam peningkatan harga TBS yang memengaruhi seluruh kelompok umur tanaman sawit.
Rincian Harga TBS di Berbagai Kelompok Umur Sawit
Melihat lebih dalam, harga TBS kelapa sawit di Sumsel untuk berbagai kelompok umur menunjukkan pergerakan yang stabil dan menguntungkan bagi petani. Berikut adalah rincian harga TBS per kilogram untuk setiap kelompok umur tanaman sawit di Sumsel pada periode I Februari 2026:
Usia 3 tahun: Rp2.998
Usia 4 tahun: Rp3.091
Usia 5 tahun: Rp3.230
Usia 6 tahun: Rp3.268
Usia 7 tahun: Rp3.267
Usia 8 tahun: Rp3.377
Usia 9 tahun: Rp3.442
Usia 10-20 tahun: Rp3.559
Usia 21 tahun: Rp3.548
Usia 22 tahun: Rp3.554
Usia 23 tahun: Rp3.529
Usia 24 tahun: Rp3.428
Usia 25 tahun: Rp3.439
Dengan melihat angka-angka ini, dapat dilihat bahwa ada kenaikan yang stabil di sebagian besar kelompok umur tanaman sawit, yang memberikan dampak positif terhadap pendapatan petani.
Kelompok umur tanaman sawit 10-20 tahun tetap mendominasi dengan harga tertinggi, yang merupakan umur produktif utama bagi tanaman sawit.
Dampak Kenaikan Harga TBS pada Ekonomi Petani
Kenaikan harga TBS kelapa sawit ini memberikan dampak positif yang besar bagi ekonomi petani di Sumsel. Dengan harga yang lebih baik, petani sawit dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar dari hasil panen mereka.
Sebelumnya, petani seringkali menghadapi tekanan harga yang rendah, terutama saat harga CPO dan kernel sedang anjlok di pasar global. Kini, dengan adanya kenaikan harga TBS, para petani dapat lebih mudah memenuhi kebutuhan ekonomi mereka.
Peningkatan harga TBS ini juga memberikan harapan baru bagi industri kelapa sawit di Sumsel yang telah menjadi salah satu komoditas unggulan di provinsi tersebut. Dengan semakin membaiknya kondisi harga, diharapkan para petani dapat terus mengembangkan usaha perkebunan mereka dan meningkatkan produksi sawit yang berkualitas.
Faktor Penyebab Kenaikan Harga TBS di Sumsel
Seperti yang disampaikan oleh Mukpakanisin, faktor utama yang menyebabkan kenaikan harga TBS di Sumsel adalah peningkatan harga CPO dan kernel.
Selain itu, faktor pasar global juga turut memengaruhi pergerakan harga TBS. Kenaikan permintaan terhadap CPO dan inti sawit dari negara-negara konsumen utama, seperti India, China, dan negara-negara Uni Eropa, menyebabkan harga CPO dan kernel mengalami tren positif.
Selain itu, kondisi cuaca yang mendukung di beberapa daerah penghasil sawit di Sumsel juga turut berperan dalam mendongkrak hasil panen. Faktor-faktor ini bekerja bersama-sama untuk menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi para petani sawit di provinsi ini.
Dengan kenaikan harga TBS di Sumsel, para petani sawit diharapkan dapat merasakan manfaat yang lebih besar, yang tidak hanya meningkatkan pendapatan mereka tetapi juga berkontribusi pada ekonomi daerah secara keseluruhan.
Program penetapan harga yang transparan dan berkelanjutan ini sangat penting bagi kesejahteraan petani sawit dan keberlanjutan industri kelapa sawit di provinsi ini.