JAKARTA - Momentum peringatan Mujahadah Kubro Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) menjadi ruang refleksi kebangsaan yang sarat makna.
Di tengah ribuan warga NU yang memadati lokasi acara di Malang, Jawa Timur, Presiden Prabowo Subianto hadir menyampaikan penghormatan sekaligus apresiasi atas kiprah panjang NU dalam sejarah Indonesia. Kehadiran kepala negara dalam perhelatan tersebut bukan sekadar simbol kehadiran pemerintah, melainkan penegasan akan pentingnya peran kekuatan spiritual dan sosial NU dalam menjaga keutuhan bangsa.
Prabowo menyampaikan rasa terima kasihnya kepada keluarga besar NU atas undangan dan sambutan yang diberikan. Ia menyebut kehadirannya dalam Mujahadah Kubro Satu Abad NU sebagai sebuah kehormatan.
Bagi Prabowo, acara tersebut memiliki nilai istimewa karena tidak hanya menjadi peringatan usia organisasi, tetapi juga refleksi perjalanan panjang pengabdian NU bagi bangsa dan negara.
Dalam suasana khidmat yang dipenuhi doa dan dzikir, Prabowo menilai Mujahadah Kubro mencerminkan kekuatan spiritual NU yang berpadu dengan semangat kebangsaan. Ia melihat NU sebagai organisasi yang tidak pernah terpisah dari denyut kehidupan rakyat serta selalu hadir dalam momen-momen penting sejarah Indonesia.
Makna Kehadiran Presiden di Tengah Warga NU
Prabowo mengungkapkan bahwa setiap berada di tengah warga NU, dirinya selalu merasakan kebahagiaan dan semangat yang khas.
Menurutnya, NU memancarkan kesejukan, semangat persatuan, kebersamaan, serta tekad untuk menjaga kedamaian bangsa. Ia menyebut suasana kebatinan di lingkungan NU selalu menghadirkan optimisme akan masa depan Indonesia.
“Saya merasakan semangat persatuan, semangat guyub, dan harapan atas kekuatan negara yang adil,” ujar Prabowo.
Pernyataan tersebut mencerminkan pandangan Prabowo bahwa NU tidak hanya berperan sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai perekat sosial bangsa. Dalam pandangannya, kekuatan NU terletak pada kemampuannya menjaga harmoni di tengah keberagaman Indonesia.
Prabowo juga menilai bahwa nilai-nilai yang dijaga NU selaras dengan cita-cita kemerdekaan Indonesia, yakni membangun negara yang adil, damai, dan berdaulat. Oleh karena itu, ia menempatkan NU sebagai mitra strategis dalam menjaga stabilitas nasional dan memperkuat persatuan bangsa.
Peran Perempuan NU sebagai Kekuatan Organisasi
Dalam pidatonya, Presiden turut menyoroti peran besar kalangan perempuan NU. Ia mengaku terkesan dengan kekuatan dan semangat para Ibu-Ibu NU yang menurutnya menjadi energi tersendiri dalam menjaga soliditas organisasi dan bangsa. Bagi Prabowo, peran perempuan NU tidak dapat dipisahkan dari keberlangsungan NU selama satu abad terakhir.
Prabowo menilai bahwa para perempuan NU telah menjadi penopang utama dalam pendidikan, dakwah, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan di tingkat keluarga dan masyarakat. Keteguhan dan konsistensi mereka disebut sebagai salah satu faktor yang membuat NU tetap relevan dan kokoh menghadapi berbagai perubahan zaman.
Ia memandang kekuatan NU tidak hanya terletak pada struktur organisasinya, tetapi juga pada peran aktif perempuan dalam menjaga nilai, tradisi, dan semangat pengabdian. Energi kolektif tersebut dinilai berkontribusi besar dalam menjaga stabilitas sosial di berbagai daerah.
NU sebagai Pilar Sejarah dan Ketahanan Bangsa
Prabowo menegaskan bahwa selama 100 tahun kiprahnya, NU telah membuktikan diri sebagai pilar penting kebesaran bangsa Indonesia. Ia menyebut NU selalu tampil ketika negara menghadapi situasi genting dan membutuhkan pengabdian. Dari masa perjuangan kemerdekaan hingga era pembangunan, NU dinilai konsisten berada di garis depan.
Menurut Prabowo, NU bukan hanya saksi sejarah, tetapi juga pelaku aktif dalam perjalanan bangsa. Kontribusi NU tidak terbatas pada aspek keagamaan, melainkan juga dalam membangun kesadaran kebangsaan, menjaga persatuan, dan memperkuat ketahanan sosial.
Ia menilai keteguhan NU dalam menjaga komitmen kebangsaan menjadi teladan penting bagi seluruh elemen masyarakat. Dalam situasi global yang penuh tantangan, peran organisasi seperti NU dianggap semakin relevan untuk menjaga keseimbangan antara nilai spiritual dan kepentingan nasional.
Jawa Timur dan Ujian Sejati Kemerdekaan
Dalam pidatonya, Prabowo turut mengingatkan peran historis Jawa Timur dan Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia menyampaikan bahwa meskipun proklamasi kemerdekaan dilakukan di Jakarta, ujian sejati kemerdekaan justru terjadi di Surabaya dan sekitarnya.
Menurut Prabowo, rakyat Jawa Timur yang dipimpin para kiai dan ulama telah membuktikan bahwa bangsa Indonesia tidak lagi mau tunduk pada penjajahan. Perlawanan tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah perjuangan nasional dan menunjukkan kuatnya sinergi antara ulama dan rakyat.
Peristiwa itu, lanjut Prabowo, menegaskan bahwa kekuatan spiritual dan keberanian rakyat menjadi fondasi utama dalam mempertahankan kedaulatan bangsa. Nilai sejarah tersebut dinilai masih relevan hingga saat ini dalam menjaga semangat nasionalisme.
Ajakan Konsisten Menjaga Persatuan Nasional
Menutup pidatonya, Presiden menegaskan bahwa NU selama ini konsisten memberi teladan dalam menjaga persatuan. Ia menekankan bahwa tidak ada bangsa yang dapat maju dan kuat apabila para pemimpinnya tidak rukun. Persatuan, menurutnya, merupakan prasyarat utama bagi kemajuan Indonesia.
“Oleh karena itu, saya selalu mengajak semua unsur bangsa untuk bersatu. Kita boleh bersaing, berbeda pendapat, dan berdebat, tetapi pada akhirnya semua pemimpin harus rukun dan menjaga persatuan serta kesatuan,” kata Prabowo.
Pesan tersebut menjadi penegasan komitmen Presiden terhadap nilai persatuan yang selama ini dijaga NU. Dalam pandangannya, semangat Mujahadah Kubro Satu Abad NU harus terus hidup sebagai inspirasi bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan masa depan.