JAKARTA - Keberhasilan mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah menjadi landasan optimisme PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) memasuki tahun 2026.
Setelah membukukan marketing sales real estat senilai Rp 3,6 triliun pada 2025, perseroan kini menetapkan target yang lebih tinggi, yakni Rp 3,75 triliun untuk tahun berjalan. Target tersebut mencerminkan pertumbuhan sekitar 4,16% dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Pencapaian 2025 tidak hanya menjadi tonggak penting bagi Jababeka, tetapi juga menegaskan daya tahan bisnis kawasan industri di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Realisasi marketing sales tersebut bahkan melampaui target manajemen yang sebelumnya dipatok sebesar Rp 3,5 triliun.
Rekor Marketing Sales Jadi Fondasi Optimisme
Sepanjang 2025, KIJA mencatatkan marketing sales sebesar Rp 3,6 triliun, tumbuh sekitar 13% dibandingkan realisasi 2024 yang berada di level Rp 3,19 triliun. Corporate Secretary Jababeka, Muljadi Suganda, menyebut capaian tersebut sebagai sinyal kuat bahwa minat investor terhadap kawasan industri Jababeka tetap solid.
“Kinerja tersebut sekaligus menegaskan daya tarik kawasan industri KIJA yang tetap kuat di tengah dinamika ekonomi global,” ungkap Muljadi.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kontribusi dua kawasan utama Jababeka, yakni Cikarang dan Kendal, yang masing-masing memiliki karakteristik dan basis investor berbeda namun saling melengkapi.
Kontribusi Cikarang Didominasi Penjualan Lahan Industri
Di kawasan Cikarang, marketing sales sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp 1,1 triliun, meningkat sekitar 5% secara tahunan. Capaian tersebut berasal dari penjualan lahan dengan total luas 21,2 hektare di seluruh segmen.
Muljadi merinci, penjualan terbesar di Cikarang berasal dari tanah matang kawasan industri dengan nilai Rp 567,4 miliar dan luas lahan sekitar 18 hektare.
Sementara itu, produk tanah dan bangunan berkontribusi Rp 365,4 miliar, yang terdiri dari penjualan bangunan pabrik (standard factory building) sebesar Rp 292,7 miliar serta produk residensial dan komersial senilai Rp 72,7 miliar.
Dari total penjualan tanah matang dan bangunan pabrik senilai Rp 860 miliar, investor asing menyumbang porsi lebih besar, yakni 52%, sementara investor domestik berkontribusi sekitar 48%. Investor asing tersebut terutama berasal dari Korea dan China.
Penjualan tunggal terbesar di Cikarang meliputi transaksi lahan seluas 6 hektare kepada perusahaan Korea di sektor personal care serta penjualan 4 hektare lahan kepada perusahaan Indonesia yang bergerak di sektor data center.
Kendal Jadi Motor Utama Pertumbuhan Marketing Sales
Berbeda dengan Cikarang, kawasan Kendal menjadi kontributor terbesar marketing sales KIJA sepanjang 2025. Dari kawasan ini, KIJA membukukan marketing sales sebesar Rp 2,51 triliun yang berasal dari penjualan 142 hektare lahan.
Capaian tersebut meningkat sekitar 17% dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp 2,14 triliun. Di Kendal, dominasi investor asing terlihat sangat kuat dengan kontribusi sekitar 89% dari total marketing sales, terutama berasal dari China, Hong Kong, dan Taiwan. Sementara investor domestik menyumbang sekitar 11%.
Transaksi terbesar di Kendal mencakup penjualan lahan kepada perusahaan asal China untuk sektor industri ban seluas 8 hektare, sektor bahan bangunan seluas 7 hektare, serta industri furnitur dengan luas lahan 13 hektare.
Selain itu, KIJA juga mencatat penjualan lahan seluas 12 hektare kepada perusahaan furnitur asal Indonesia serta satu transaksi lahan seluas 13 hektare kepada perusahaan kemasan asal Hong Kong.
Target Marketing Sales KIJA Tahun 2026
Memasuki 2026, KIJA menetapkan target marketing sales sebesar Rp 3,75 triliun. Muljadi menyampaikan bahwa target tersebut terutama didorong oleh permintaan yang tetap tinggi terhadap lahan industri di Kendal dan Cikarang.
Dari total target tersebut, KIJA memproyeksikan marketing sales sebesar Rp 1,25 triliun akan berasal dari kawasan Cikarang dan sekitarnya. Rinciannya, sekitar Rp 800 miliar berasal dari penjualan tanah matang dan produk industri, serta Rp 450 miliar dari produk residensial dan komersial.
Sementara itu, kawasan Kendal ditargetkan menyumbang marketing sales sebesar Rp 2,5 triliun, yang seluruhnya berasal dari produk industri. Fokus ini sejalan dengan tren minat investor asing yang masih kuat terhadap kawasan industri berorientasi ekspor.
Outlook Kawasan Industri dan Sektor Andalan
Chairman & Founder Kawasan Industri Jababeka, Setyono Djuandi Darmono, menilai prospek kawasan industri Indonesia pada 2026 tetap positif meskipun berada dalam lanskap global yang penuh ketidakpastian.
“Secara umum, kami melihat outlook kawasan industri Indonesia pada 2026 tetap positif, meskipun berada dalam lanskap global yang penuh ketidakpastian,” kata Darmono.
Ia menyoroti peluang yang muncul dari upaya diversifikasi rantai pasok global. Menurut Darmono, banyak perusahaan global kini tidak ingin bergantung pada satu negara, sehingga peluang relokasi pabrik ke Indonesia masih terbuka lebar, terutama dari Jepang, Korea Selatan, China, Taiwan, dan Eropa.
Selain itu, kebijakan hilirisasi dan industrialisasi nasional dinilai mulai menunjukkan hasil, khususnya di sektor logam, kimia, dan energi.
Pada 2026, KIJA memperkirakan permintaan lahan industri akan datang dari beberapa sektor utama, baik dari Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
Sektor pertama adalah industri manufaktur berorientasi ekspor, seperti otomotif dan komponennya, termasuk kendaraan listrik (EV) dan baterai, serta industri mesin dan elektronik. “Sektor ini tetap menjadi tulang punggung permintaan kawasan industri,” ujar Darmono.
Sektor kedua adalah industri berbasis sumber daya alam atau hilirisasi, mencakup industri logam, kimia dasar dan petrokimia, serta agroindustri bernilai tambah. “Hilirisasi tidak lagi hanya di luar Jawa, tetapi juga mulai masuk ke kawasan industri terintegrasi dengan pelabuhan dan logistik,” imbuhnya.
Sektor ketiga adalah industri berbasis teknologi tinggi, seperti data center dan infrastruktur digital, kesehatan dan alat medis, bioteknologi, processed food, serta clean technology.
“Permintaan dari sektor ini memang tidak selalu besar dari sisi luasan lahan, tetapi sangat tinggi dari sisi nilai investasi dan kualitas ekosistem,” tandas Darmono.