JAKARTA - Lagu terbaru berjudul Iqro’ karya Raim Laode telah menjadi perbincangan hangat sejak peluncuran video musiknya pada 6 Februari 2026, mengundang pendengar untuk merenungkan makna kehidupan melalui bait-baitnya yang jujur dan puitis. Lagu ini tidak hanya menawarkan suara yang merdu, tetapi juga menyuguhkan konten lirik yang mengajak setiap orang untuk menelaah kembali keberadaan diri di tengah alam semesta dan tujuan hidup yang lebih dalam. Dalam artikel ini, kita akan menyajikan paparan dari berbagai sisi, tetap mempertahankan kutipan asli dari liriknya sesuai sumber yang tersedia.
Makna Dasar Lagu Iqro’ Raim Laode
Sejak dirilis, Iqro’ dikenal sebagai karya yang menyentuh aspek spiritual dan eksistensial pendengarnya. Iqro’ diambil dari kata Arab yang berarti “bacalah”, dan dalam konteks lagu ini menjadi ajakan untuk membaca bukan sekadar huruf, tetapi membaca tanda-tanda kehidupan dan keberadaan diri sendiri dengan sepenuh hati. Lagu tersebut memadukan rasa kagum terhadap kebesaran semesta dengan refleksi batiniah tentang apa arti dunia ini bagi manusia. Tema ini mendapat respon kuat dari pendengar di berbagai platform musik digital, yang merasa terhubung secara personal dengan pesan yang disampaikan Raim Laode melalui karya ini.
Bahasa dan Struktur Lirik yang Reflektif
Yang membuat Iqro’ begitu istimewa adalah struktur liriknya yang sederhana namun penuh lapisan makna. Lagu ini memadukan deskripsi alam semesta dengan pertanyaan-pertanyaan batin yang melibatkan pencarian makna hidup. Berikut penggalan lirik utamanya yang menjadi titik fokus refleksi banyak pendengar:
“Bintang bintang dan pepohonan
Kedua bersujud pada-Nya
Masih kukagum tentang langit
Kokoh nan tinggi tak bertiang
Siapakah aku sebenarnya
Hanya atom yang kecil besar sombongnya
Sampai di masa ini
ku masih mencari
tentang arti dunia
yang ramai nan sunyi
Bantu aku berjalan menuju cahaya
Lalu aku berjanji menjadi yang baik”
Baris-baris ini menunjukkan campuran antara kekaguman terhadap ciptaan yang agung dan kesadaran akan keterbatasan eksistensi manusia. Kesendirian dan keramaian dunia dipandang bukan sebagai dua kutub yang bertentangan semata, tetapi sebagai kondisi yang sama-sama memancing keterlibatan batin yang lebih dalam.
Refleksi Eksistensial dan Krisis Makna
Tema krisis makna terlihat jelas ketika sang penyanyi menyuarakan keraguannya tentang hakikat diri sendiri: “Siapakah aku sebenarnya / Hanya atom yang kecil besar sombongnya”. Ini adalah puncak dari renungan eksistensial yang mempertemukan kesadaran akan keterbatasan manusia dengan kecenderungan manusia untuk merasa penting. Dalam banyak karya seni dan sastra, pengakuan atas kerapuhan dan kebesaran ini menjadi titik awal untuk memahami hidup dengan perspektif yang lebih luas. Dalam Iqro’, Raim Laode membawa pesan ini dengan cara yang puitis tetapi mudah diresapi.
Pertanyaan tentang Dunia yang Ramai dan Sunyi
Lagu ini kemudian memperluas ruang refleksi dengan mempertanyakan dunia yang “ramai nan sunyi”. “Sampai di masa ini / ku masih mencari / tentang arti dunia / yang ramai nan sunyi” menciptakan kontras kuat antara kebisingan luar dan keheningan batin. Dunia yang ramai menggambarkan hiruk-pikuk kehidupan, sementara sunyi di sini merujuk pada kekosongan batin yang sering menyertai hidup manusia meskipun dikelilingi oleh berbagai hal dan orang. Kutipan ini menarik karena ia tidak menawarkan jawaban langsung, melainkan tetap berada dalam wilayah pertanyaan, mengajak pendengar untuk terus mencari dan merenung.
Ajakan untuk Berjalan Menuju Cahaya
Salah satu bagian paling menggugah dari Iqro’ adalah ajakan untuk “berjalan menuju cahaya”. “Bantu aku berjalan menuju cahaya / Lalu aku berjanji menjadi yang baik” bukan sekadar kalimat puitis, tetapi merupakan pengakuan akan pentingnya bimbingan dan transformasi diri. Cahaya di sini dapat dibaca sebagai simbol pengetahuan, pencerahan batin, atau bahkan ketentraman spiritual. Janji untuk “menjadi yang baik” bukan diungkapkan sebagai hasil tiba-tiba, melainkan sebagai akibat dari proses mencari dan bergerak.
Kesadaran Bahagia di Saat Ini
Bagian akhir dari lirik Iqro’ menyuguhkan pemahaman penting tentang kebahagiaan sebagai sesuatu yang hadir di masa sekarang, bukan sekadar sesuatu yang dinantikan di masa depan:
“Baru aku mengerti
ternyata bahagia
bukan perkara nanti tetapi sekarang
Harta paling berharga
bukanlah materi
Tetapi tentang waktu
tak bisa kutahan”
Pernyataan ini menegaskan bahwa materi bukanlah esensi utama kebahagiaan; sebaliknya, waktu yang berjalan dan kesadaran penuh atasnya adalah kunci untuk menemukan kebahagiaan yang sejati. Kesadaran semacam ini mendorong pendengar untuk menghargai setiap momen hidup dengan lebih bermakna.
Dampak Lagu dan Penerimaan Publik
Sejak video musiknya dirilis, respons publik terhadap Iqro’ menunjukkan bahwa banyak pendengar merasakan kedalaman pesan lagu ini. Banyak yang menilai bahwa Iqro’ bukan sekadar lagu untuk didengar, tetapi juga untuk direnungkan, layaknya puisi yang dibacakan dengan iringan melodi yang indah. Lagu ini terus menjadi topik diskusi di media sosial dan platform musik, terutama karena liriknya yang mampu menghubungkan aspek personal pengalaman hidup sehari-hari dengan pertanyaan universal tentang tujuan, kebahagiaan, dan kesadaran diri.
Dengan demikian, Iqro’ menjadi karya yang tidak hanya menarik dari sisi musikal, tetapi juga kuat sebagai refleksi filosofis yang menggugah pendengarnya untuk terus mencari makna hidup secara lebih dalam